Liburan Keluarga di Garis Batas Negara Tanah Khatulistiwa, Jagoi Babang Indonesia



#CeritaBunda

Bangun pagi lansung buka jendela, jam baru menunjukkan jam 05.15 pagi namun di luar kabut sangat tebal sehingga jarak pandang sangat terhambat tetapi udaranya sangat menyegarkan

Akupun lansung bersih - bersih rumah, karena hari minggu jadi mas hapi pun bangunnya telat hehe

Kepikir di benakku untuk mengajak mas hapi jalan-jalan, mumpung masih pagi udara di jalanan pasti segar di tambah lagi suara burung yang berkicau, sudah terbayang indahnya

Aku : Pa, Bangun !!! Kita jalan jalan yuk
Mas Hapi : Jalan Jalan kemana??
Aku : Terserah aja, sekalian belanja keperluan dapur
Mas Hapi : Yudah, kita ke Jagoi Babang saja ya, sekalian belanja disana
Aku : Tapi sampai ke titik nol ya
Mas Hapi : Ok, siap bu bos

Kami pun lansung bersiap-siap aku pun lansung mandi sedangkan mas hapi mengecek sepeda motornya yang akan membawa kami jalan jalan, Setelah semua selesai kami pun berangkat

Benar saja, keluar dari wilayah perkebunan menuju jalan utama (Jalan Parelel Aruk - Entikong) kabut menyelimuti jalanan, udaranya sangat segar sekali ditambah kicauan burung yang merdu

Sebenarnya untuk menuju ke perbatasan titik nol di jagoi babang dari tempat mas hapi kerja tidak terlalu jauh sekitar 50 km, namun di beberapa lokasi jalan masih sirtu (pasir batu) jadi membuat laju motor terhambat

Di tengah perjalanan mata ku tertuju di genangan air yang sangat jernih di pinggir jalan, aku pun menyuruh mas hapi untuk berhenti

Aku : Pa, berhenti sebentar
Mas Hapi : Ada apa?
Aku : Mau lihat genangan air itu (sambil menunjuk)
Mas Hapi : Kenapa jernih ya airnya

Ternyata saat di dekati airnya sangat jernih hingga berudu (kecebong) yang berenang di dasar pun bisa kelihatan, sejenak terpikir oleh ku, "betapa indahnya alam kalimantan, apalagi jika hutannya tetap di jaga"



Cekungan yang berisi air itu sepertinya terbentuk alami, sungguh sangat indah, penasaran dengan airnya aku pun mencoba memasukkan tangan kanan ku, dan ternyata airnya sangat dingin sekali

Aku : Pa, airnya dingin ya
Mas Hapi : Iya, Buat cuci muka sepertinya segar ni (sambil basuh mukanya)
Aku : Yuk lanjutkan perjalanan
Mas Hapi : Ayuk lah

Kami melanjutkan perjalanan, setelah 10 menit perjalanan kami sampai diperempatan Take, orang setempat bilangnya "Simpang Take' ", ada beberapa toko yang berjualan mulai dari kebutuhan prabot rumah, jualan pulsa, rumah makan dan sayur-sayuran

Mas Hapi : Nanti kita belanja buat dapur disini aja (sambil menunjuk toko yang jual sayur)

Namun kami lansung mengarah ke arah perbatasan jogai babang, di perjalanan kami juga sempat melewati puskesmas jagoi babang, ada perasaan bangga melihat bangunan puskesmas yang besar seperti itu di perbatasan Indonesia, karena kebutuhan akan pelayanan kesehatan di perbatasan sudah di perhatikan oleh pemerintah

Kami juga melewati pos penjagaan tentara, pasar jagoi babang, kantor migrasi, hingga kantor bea cukai sampai di ujung jalan, jalanan pun sudah tidak beraspal

Aku pikir " apa ini perbatasannya, tapi kenapa sepi" aku pun menanyakan ke mas Hapi

Aku : Pa, ini perbatsannya
Mas Hapi : Bukan, perbatsannya sebelah sana, melewati gedung itu

Ternyata di sana ada gedung yang sangat besar, namun sepertinya pembangunannya di berhentikan, karena kelihatan gedung belum terbangun dengan sempurna dan di dalamnya sudah di tumbuhi oleh rumput liar

Jalanan sangat kecil dan berbatu sehingga cukup menyulitkan, sekitar lima menit perjalanan dari gedung itu kami pun sampai di portal sederhana dan ternyata di sini lah titik nol jagoi babang

Kami pun mampir di toko untuk membeli minum, ternyata di toko perbatasan banyak sekali di jual barang malaysia mulai dari munuman kaleng, snack, gas, bahkan gula pun ada terjual di toko itu

Kami pun penasaran dan mengobrol dengan yang punya toko, kebetulan toko waktu itu sepi

Aku : Ibu mau air mineral
Ibu Toko : Dipilih aja ya bu
Aku : Mengambil dua botol air mineral
Aku : Ibu, disini produk malaysia jauh lebih murah ya di banding produk kita
Ibu Toko : Iya bu, kalau dibanding dengan produk Indonesia jauh lebih murah
Mas Hapi : Mungkin karena jika produk Indonesia, biaya angkut ke sini yang buat mahal, karena jarak dari Pontianak ke sini bisa hampir 10 jam, biaya itu lah yang buat warga sekitar lebih memilih produk dari Malaysia
Ibu Toko : Iya benar pak, seringkali disini kita juga menggunakan Ringgit untuk transaksi
....
....
....

Panjang lebar berbicara kami pun pamit, dan berfoto di tugu titik nol yang ada di pinggir jalan, ternyata tugu itu di buat oleh beberapa orang yang bisa di lihat di batu peresmian yang di tanda tangani oleh bupati bengkayang



Tidak jauh dari tugu titik nol itu ada juga tugu pancasila yang banyak sekali terpasang bendera merah putih, sungguh sangat cantik sekali, bangga jadi warga negara Indonesia

Setelah puas berfoto, kami pun pulang dan lansung berbelanja di toko sayur di simpang take'

Liburan Keluarga di Garis Batas Negara Tanah Khatulistiwa, Aruk Indonesia


#CeritaBapak

Kita semua tahu bahwa Kalimantan Barat berbatasan lansung dengan negara Malaysia, batas memanjang dari dari barat hinnga timur

Dimana terdapat 3 pos lintas batas negara (PLBN) yang ada di Kalimantan Barat, PLBN Entikong, PLBN Jagoi Babang, PLBN Aruk

Kali ini, saya akan mengajak istri untuk berkunjung ke PLBN Aruk yang jaraknya sekitar 89 km dari kota sambas

Kami berangkat awal pagi sekitar jam 06:00 dari rumah, karena memang jaraknya cukup jauh dan tidak terlalu panas juga jika pagi hari

Berangkat dengan sepeda motor sangatlah menyenangkan karena bisa menikmati udara segar, dan kabut masih banyak di jalanan

Kondisi jalanan sangat bagus, beraspal dan cukup lebar sehingga kita bisa memacu kendaraan dengan kecepatan 70 km/jam, namun juga harus tetap berhati-hati karena ada beberapa jalan yang mempunyai sudut yang sangat tajam

Setelah 50 menit perjalanan kami menemukan pemandangan yang sangat indah di pinggir jalan, karena memang jalan ini berada di atas bukit

Saya : Kita Istirahat di sini sebentar ya . . . 
Istri : Dimana?
Saya : Di depan, bukit liter es namanya
Istri : Ok

Orang setempat menyebutnya bukit liter es, memang tempatnya pas di puncak bukit sehingga saat berada di sana kita bisa melihat pemandangan di bawah, mulai dari pepohonan hingga jalan yang berkelok kelok

Dipunjak bukit itu juga terdapat Base Transceiver Stasiun (BTS) dari salah satu operator jaringan ternama di Indonesia, BTS ini bisa kamu jadikan patokan saat mau kesana

Karena saat tiba disana kami masih pagi, sehingga bisa menikmati indahnya mentari yang baru muncul dari upuk timur, kalau (bahasa kerennya sunrise hihi..), diiringin lantunan suara burung yang saling berkicau merdu

Saya : Ngak foto Nong*
Istri : Ayok lah
Saya : Arah sana view nya bagus (sambil menunjuk)

* Panggilan kepada seseorang, sama seperti "denok"

Kami pun mengambil beberapa foto yang indah disana, karena sayang untuk dilewatkan buat menambah album di google foto

Bukit Liter Es

Puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju PLBN aruk Indonesia, sepanjang perjalanan tidak timui rumah warga hanya kebun lada dan sawit milik warga sekitar di pinggir jalan

Sampai di pertigaan tanjung baru kita menemukan beberapa toko, tidak jauh dari pertigaan sebenarnya ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) namun masih tutup

Saya : Kita beli bahan bakar enceran ya
Istri : Iya, ngak apa apa

Kami pun berhentikan motor di salah satu kios milik warga

[Bahasa melayu sambas]
Saya : Bang pertalite ye
Bang Kios : Nak berape liter?
Saya : Se liter berape bang?
Bang Kios : Sepulloh ribu
Saya : Tigge liter lah bang

Setelah membayar kami melanjutkan perjalanan, ternyata hanya beberapa menit setelahnya kami pun sudah sampai di PLBN Aruk

Ternyata !!! Bangunannya sangat luas dan megah sekali, kami pun memarkirkan sepeda motor di dekat pos tentara yang ada di sana, untuk masuk ke PLBN Aruk kita harus izin ke security yang berjaga di sana

[Bahasa melayu sambas]
Saya : Pak, bisse ndak kamek masok e
Security : Oh, ndak ape ape, silekan jak. cuman tullong jage kebersehan i
Saye : Tentu ye pak, makkaseh i

Kami pun masuk, halaman dari PLBN sangat luas dengan bangunan khas suku dayak seperti rumah panjang dengan beberapa prisai di atasnya

Selain security, cctv pun di pasang di setiap sudut yang terdapat di 3 gerbang utama, kami terus berjalan menelusuri tiap sudut

Hingga sampai di tempat yang luas dimana ada tulisan besar "ARUK INDONESIA" yang menjadi icon dan sangat Instagramable

Dibelakangnya terdapat tugu yang diatasnya ada patung garuda, disampingnya juga ada monumen peresmian oleh periden Indonesia yang ke-7 Joko Widodo

Lagi lagi kami tidak mensia-siakan momen ini dengan mengambil beberapa foto di sana

Saya : Ayo foto-foto lagi


PLBN Aruk itu sangat luas, kami melanjutkan berjalan menuju ke arah batas nya dan menemukan lagi 3 perisai yang sangat tinggi dengan dengan bangun di sampingnya yang bertulisan "INDONESIA" yang sangat besar

Benar bangga rasanya menjadi warga negara Indonesia, sepanjang jalan terdapat tanaman bunga yang sangat indah memisahkan dua jalur jalan yang ada

Terdapat juga gerbang besar di setiap jalur yang memiliki dua tulisan berbahasa inggris dan bahasa indonesia "WELCOME TO INDONESIA" dan "SELAMAT DATANG DI INDONESIA" sangat indah sekali

Orang banyak yang masuk dan keluar dari pos lintas batas negara ini, kadang ada juga warga setempat yang harus bersilaturahmi ke rumah keluarga mereka di negeri jiran ini

Kamu jika pergi ke Kalimantan Barat harus mampir ya ke PLBN Aruk ini, yakin pasti sangat bangga dengan negara kita ini

Sampai ketemu lagi dengan cerita kami berikutnya.

Mengubah Paradigma : Indahnya Toleransi Antar Suku Yang Ada di Kalimantan Barat

#CeritaBunda

Pertama kali memutuskan untuk menikah dengan orang Kalimantan Barat, ada penolakan kecil dari pihak keluarga, namun aku mulai menyakinkan bahwa Kalimantan yang sebenarnya bukanlah seperti yang banyak di isukan di tanah jawa, biarpun sebenarnya aku sendiri kurang yakin karena belum pernah ke sana waktu itu

Karena jika berbicara tentang kalimantan masih banyak kalangan yang berfikir kalau kalimantan itu adalah sebuah pulau dengan hutan yang lebat dan di dalamnya banyak binatang besar yang masih buas

Serta ada yang beranggapan jika suku di sana masih masih sangat tradisional yaitu menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit pohon atau tanaman lainnya

Paling terkenal adalah suku dayak dengan kekuatan mistis dan magisnya itu, apalagi setelah kejadian konflik sampit yang sangat terkenal itu, yang menjadi paradigma bahwa di kalimantan itu tidak ada toleransi antar suku

Berfikir tentang itu, kadang aku juga ragu untuk memutuskan  menikah dengan orang kalimantan

Namun karena saat menempuh pendidikan banyak sekali bertemu dengan orang kalimantan, bahkan mereka menjadi teman baikku

Ega Mawarni, Dwi Elpani, Simonsius, Rani Muarif, Hapi (suamiku), meraka semua adalah suku melayu kecuali Simonsius yang bersuku dayak, dari mereka semualah aku banyak belajar tentang kalimantan

Mereka banyak bercerita tentang adat dan kehidupan di kalimantan, dari cerita meraka itu kalimantan bukanlah seperti yang aku dan banyak orang pikirkan selama ini

Kehidupan di kalimantan sangat menjunjung tinggi toleransi, mereka mengatakan suku dayak, melayu, cina dan banyak lagi yang hidup berdampingan dalam kesehariannya, saling berinteraksi satu sama lain tanpa ada sekat

Berbekal pengetahuan dari teman baikku itu lah aku bisa menyakinkan orang tuaku, sehingga bisa menerima dan akhirnya aku pun menikah dengan mas Hapi

Pada tanggal 13 februari 2019 aku dan keluargaku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah kaliamantan


Akupun harus membuktikan sendiri apa yang di ceritanya teman - teman ku itu, ternyata saat sampai di Pontianak dan menuju ke Sambas, aku tidak menemukan hutan dan orang yang berpakaian tradisional seperti yang ada di benakku itu

Diperjalanan menuju sambas, aku dan keluarga sempat terpukau saat melintasi sebuah kota yang membuat perasaanku sedang berada di negara Hongkong seperti yang sering ku lihat di film

Banyak sekali lampion di jalanan dengan bergemerlap cahaya yang sangat indah, ada patung naga yang sangat besar di tengah jalan dan yang paling membuatku yakin akan cerita temanku adalah saat aku melewati bangunan tempat ibadah dua agama yaitu masjid dan klenteng



Masjid dan Klenteng itu di bangun berdekatan, aku menjadi semakin yakin ternyata kalimantan sangat menjunjung tinggi nilai toleransi itu, ternyata kota yang aku lewati itu bernama Singkawang

Informasi

Berdasarkan hasil penilaian indeks kota toleran (IKT) dari 94 kota yang dilakukan Setara Institute, menempatkan kota Singkawang menjadi kota paling toleran di Indonesia


Untuk menyakinkan, aku ikut ke tempat suami ku berkerja di kota Jagoi Babang, di perumahan tempat suami ku itu ternyata juga bertetangga dengan banyak orang dari berbagai daerah ada dari NTT, NTB, Jawa, dan yang pasti suku dayak, melayu

Mereka semua bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain tanpa ada melihat suku maupun agama apa yang di anut, semua saling menghormati

Bahkan ketika ada renovasi masjid banyak sekali warga setempat yang mayoritas beragama kristen membantu pembangunan masjid

Sungguh, ternyata apa yang ada di benakku selama ini hanya terbentuk dari informasi atau cerita yang menyebar hanya dari mulut ke mulut yang sudah di "bumbui"

Aku sudah membuktikannya dengan mata dan kepalaku sendiri, Kalimantan itu adalah tempat paling menjunjung tinggi toleransi yang pernah aku temui

Makanya mulai sekarang bagi siapapun yang membaca cerita ku ini, dan masih beranggapan bahwa kalimantan itu seperti apa yang kuceritakan di awal, harus kita ubah ya


Semoga Bermanfaat

Perjalanan Panjang Menuju Rumah Mertua di Perbatasan Paling Utara Negara Indonesia


#CeritaBunda

Pagi yang cerah menyelimuti langit jogja, aku dan kedua orang tua serta adek yang paling bungsu itu mulai menata koper serta beberapa oleh-oleh untuk mertua

Hari ini cukup menyenangkan bagi ku, karena untuk pertama kalinya aku dan keluargaku akan menginjakkan kaki di tanah khatulistiwa, adekku yang bungsu itu bernama Pawes, dia sangat senang sekali saat tau akan ikut pergi ke kalimantan

Namun adek yang satunya lagi, namanya Risky. ia tidak bisa ikut karena belum liburan sekolah dan akan ikut ujian akhir sekolah tahun ini

Setelah semuannya siap, bapak mulai menelpon keponakkannya untuk mengantar kami ke bandara Adi Sitjipto

Padahal jam baru menunjukkan angka 12 siang, sedangkan saya ambil penerbangan jam 05.10 Wib (mungkin takut ketinggalan pesawat lagi pikirku)


[Pembicaraan Telpon]
Bapak : Hallo Mas, Lagi dimana?? Saya sudah siap. Ayo Berangkat Sekarang
Mas A : Oh iya pakde, saya kesana sebentar lagi

Tak beberapa lama kami menunggu di luar rumah, mobil mas A pun datang menjemput dan akupun memasukkan semua barang bawaan ke dalam mobil

Mobilpun lansung melesat menuju bandara, tidak banyak pembicaraan di dalam mobil semua diam sambil memandangi keadaan lalu lintas

Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, kami semua tiba di terminal kedatangan bandara adisutjipto, bapak, ibu dan dek pawes pun lansung bergegas turun,

Saat aku mengeluarkan barang dari dalam mobil, tiba tiba dek pawes lansung datang sambil mendorong troli, sehingga bisa untuk menaruh barang yang berat ini

Karena Meja Check In untuk penerbangan Pontianak belum di buka, jadi aku, bapak dan ibu duduk di kursi jajar yang ada di bandara, sementara pawes sibuk mondar mandir dengan kegiatannya (ya maklum anak baru umur delapan tahun), sekali minta di beliin snack

Ibu : Oh ya mbak Dwi, mas Hapi sudah di kasih tau
Aku : Udah kok Bu, Tadi sudah di chat

Setelah cukup lama menunggu, aku pun memantau monitor yang menginfokan penerbangan yang ada di bandara

Ternyata untuk penerbangan ke Pontianak dengan maskapai **xx telah tertulis "Check In - Open" yang menandakan bahwa meja untuk check in telah dibuka

Akupun lansung mengajak Ibu, Bapak dan Pawes untuk masuk, saat datang di tempat check in ternyata hanya ada beberapa orang yang sudah antri untuk penerbangan Pontianak

Setelah check in, ternyata kami mendapat nomor awal, semoga bisa dekat jendela pikirku (karena sangat indah melihat pemandangan di dekat jendela kaca pesawat)

Diruang tunggu tiba tiba pawes mulai bercerita tentang kejadian kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu, sebenarnya aku agak kesal dengan tingkah dek pawes

Karena itu akan membuat ibu dan bapak jadi merasa was was, apalagi saat pesawat yang akan membawa kami nanti, tepat parkir di depan kami.

Dek Pawes : Pesawatnya kok kelihatan kecil ya mbak, Ngak stabil

Ucapan dek pawes itu semakin membuat ibu was was yang kelihatan jelas di muka ibu, namun aku mulai mengalihkan pembicaraan dek pawes itu hingga ada panggilan untuk memasuki pesawat

Satu persatu kami memasuki pesawat berurutan dengan penumpang lain, dan di sambut manis oleh para awak kapal, dan kamipun menempati kursi sesuai dengan nomor yang ada pada saat boarding

Cuaca cukup cerah saat mau berangkat, namun saat asik melihat kondisi di luar terdengar suara bel tiga kali yang di ikuti oleh suara seseorang dalam bahasa inggris

"Dear passengers, welcome to … flight to … Flights to … will take us with in …  hour and … minutes, with a cruising altitude of … feet above sea level. We need to inform you that … flight is without cigarette smoke, before take off we invite you to hold the chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover. On behalf of … captain … and all the crew on duty congratulated this flight, and thank you for your choice to fly with …"

Ternyata itu adalah seorang pramugari yang sedang menginformasikan penerbangan yang akan di jalani

Tidak lama setelah itu, pesawat pun mulai bergerak dari tempat parkirnya menuju landasan pacu, pesawat mulai mempercepat kecepatannya hingga mulai terangkat dan penerbangan dimulai . .

Berada di kursi dekat jendela itu sangat menyenangkan karena aku bisa melihat pemandangan kota jogja dari atas, hingga gunung merapi

Disaat penerbangan ibu dan bapak istirahat sedangkan aku dan pewes melihat lihat awan dari jendela kaca itu, namun di sudut barat awan kelihatan orange karena memang sudah sore, saat asik melihat keluar. pramugari pun menyapa untuk menawarkan kami snack dan air mineral

Satu jam empat puluh menit perjalanan kami pun tiba di bandara Supadio Pontianak dan kondisi diluar pun sudah gelap karena jam pun sudah menunjukkan jam 6 sore

Keluar dari pesawat kami lansung ke tempat pengambilan bagasi, sambil menunggu barang kami berfoto di icon tugu khatulistiwa yang ada di bandara Supadio

Ibu : Mbak dwi, mas Hapi udah di telpon biar bisa jemput
Aku : Tadi udah bu, ada temannya yang jemput
Ibu : Oh iya

Setelah berfoto ria, kami pun lansung mengambil barang yang kami masukkan ke bagasi dan membawanya dengan trolli yang ada di bandara

Sampai diluar bandara, aku lansung menelpon suami ku

[Pembicaraan Telpon]
Aku : Pa, aku sama ibu udah di luar bandara ni
Mas Hapi : Ok, Tunggu tepat di depan pintu keluar ya, nanti ada yang jemput
Aku : Ok

Lima menit kemudian ada seorang menyapa, "Keluarga Hapi" ungkapnya. "Iya" spontan jawabku. "Ayo naik mobil, barangnya biar saya aja yang masukin ke bagasi" ungkap orang itu yang ternyata langganan suami saat pergi ke Pontianak

Saat pejalanan aku sempat melihat jam yang ada di mobil, jam waktu itu menunjukkan angka 07:35  (malam) Wib . lalu bapak bertanya ke driver tersebut

Bapak : Kira kira kita smapai jam berapa ya?
Driver : Paling cepat jam 12 malam pak
Bapak : Jauh juga ya

Aku, ibu juga dek pawes melihat lihat di sekeliling jalan kami sempat melewati tugu bambu yang diatasnya sangat runcing, ini pasti iconik pontianak, pikirku (baru aku tahu ternyata itu Tugu Digulis)

Tidak jauh dari itu, kami pun melewati jembatan besi yang sangat panjang sapai dua kali, lalu bapak pun bertanya lagi ke drivernya

Bapak : Kalimantan ini banyak sungai ya, jembatannya aja panjang kayak itu
Driver : Iya pak, yang pertama tadi itu jembatan kapuas, yang ini namanya tol (jembatan) landak

Ibu masih melihat-lihat ke arah luar, tak lama setelah itu

 - "Stop mas" ungkap ibu ke drivernya,
 - Ya kenapa bu (jawab driver sambil menghentikan mobilnya),
 - Itu benar harga langsat Rp 5000 / Kg tanya ibu kembali (oh ternyata mata ibu tergoda lihat harga langsat di pontianak hanya Rp 5000, karen di jogja harga langsat biasanya Rp 15000 / Kg)
 - Saya mau beli sebentar ya mas ., Murah soalnya. Kata ibu
 - Oh iya silakan bu . . kata driver

Lalu ibu pun membeli beberapa kilogram untuk di bawa ke rumah mertua di sambas, setelah itu perjalanan panjang pun di lanjutkan

Aku, ibu dan Pawes pun istirahat sambil memejamkan mata sambil mobil melanju sedangkan bapak mengobrol bersama drivernya

Sesekali aku melihat jam yang ada di Hp, jam menujukan pukul 10.55 (malam) Wib, dan diluar ternyata sedang hujan deras, akupun melanjutkan istirahat kembali

Ibu : jauh juga ya mbak dwi rumah orang tua (mertua) mu

Setelah berjam jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di rumah mertua, tapatnya samapai jam 12:45 Malam hari, Mas Hapi pun sudah menunggu di pinggir jalan sambil membawa beberapa payung karena memang hujan sangat deras

Sampai di rumah kita ngobrol sebentar, lalu istirahat karena perjalanan kali ini sangat melelahkan.

Ini lah pengalaman pertama aku dan keluarga di Kalimantan Barat

Pengalaman Terakhir Yang Tidak Menyenangkan , Ketinggalan Pesawat !!

#CeritaBapak

Hari ini adalah terakhir berada di Jogja, karena besok harus melanjutkan aktifitas untuk berkerja di salah satu perusahaan swasta yang ada di kota Bengkayang

Pagi hari suasana di Jogja sangat cerah, saya dan istri pun berangkat untuk membeli oleh-oleh yang ada di pasar Bantul, sampai di sana ternyata oleh-oleh yang di cari telah habis

Yah habis, kemana lagi kita mencarinya?? Tanya saya ke Istri
Cari di tokoh oleh-oleh langganan ibu saja. . Jawab istri

Kami berdua pun menuju toko yang dimaksud, ternyata tidak begitu jauh dari rumah, dan kami membeli beberapa oleh-oleh

Bapak sih pesannya dodol sama geplak ? Ungkap saya ke istri
Mbak, dodol 3 kg sama geplak 2 kg ya. . pesan istri kepada orang toko

Sambil orang toko menimbang pesanan tadi saya pun mencari makanan lainnya seperti keripik belut dan satu kotak bakpia

Setelah pesanan terkumpul sekalian minta di packing ke yang jaga toko

Pakai kotak saja ya mbak . . .kata saya

Setelah semua siap dan dibayar, kami pun lansung pulang ke rumah menggunakan sepeda motor, saat perjalanan pulang cuaca mulai mendung seperti sebentar lagi akan turun hujan

Benar saja baru sampai di depan rumah, hujan pun mulai turun. Tiba di rumah sayapun menyiapkan barang yang akan di bawa kedalam koper untuk pakaian, dan oleh oleh tadi di packing kedalam kardus

Setelah semua selesai kami pun berkumpul di teras rumah sambil melihat album foto pernikahan yang baru jadi

Jam pun telah menunjukkan jam 11 siang, saya pun lansung beristirahat, (karena nanti akan melakukan perjalan panjang dari Jogja ke Pontianak dilanjutkan dari Pontianak ke kota Sambas dan besoknya harus ke kota Bengkayang lagi. . yang terdipir di benakku)

Saya tertidur dengan pulas, diiringi irama dari butiran hujan yang jatuh ke atas atap seng

Pa. . . Bangun sudah jam 2 sore . . .  istri saya membangunkan
Oh iya . . sambil lihat jam di Hp

Saya pun bergegas untuk mandi, karena memang jadwal penerbangan saya jam 05.10 (Sore) Wib

Setelah berpamitan dengan orang tua, saya pun di antar oleh istri ke bandara menggunakan sepeda motor, namun saat di perjalanan di jalan parangteritis (oh ya. . rumah istri saya di bantul), gerimis pun turun

Setelah menggunakan mantel kami pun melanjutkan perjalanan karena memang jam sudah hampir jam 3 sore

Saya memacu sepeda motor dengan cepat karena yang ada di dalam benak (jangan sampai ketinggalan ni), namun apalah daya, niat hati pengen cepat namun saat sudah di jalan ringroad selatan selalu di berhentikan oleh traffic ligh (lampunya merah)

Sepertinya bakalan tidak terkejar. . . ungkap saya ke istri sambil lihatkan jam
Terkejar kok . . kata istri untuk menyakinkan

Akhirnya sampai juga di flyover janti, dari flyover janti ke bandara sekitar 2,5 km lagi

Ternyata 2,5 km itu adalah perjalannya yang sangat lama, turun dari flyover jalan pun mulai dipadati oleh mobil dan sepeda motor yang mengarah ke arah bandara

aduuhh bakalan ketinggalan benar ni gumuh dalam hati 

Di traffic light pertama di jalan solo - yogya itu pun kami terhenti lagi karena polisi sedang merekayasa lalu lintas, titikan air terus menimpa kami di tengah jalan

Semakin dekat dengan bandara, jalanan semangkin padat lajunya motorpun semakin melambat bahkan hampir tidak bergerak

ini benar - benar tidak terkerjar [kecawa] . . .  sambil melihatkan jam ke istri saya
jam 04.05 ya, sempat kok, pasti sempat, kan dekat lagi . . . istri saya meyakinkan

Rasa deg-degkan makin menjadi jadi di dalam hati, karena waktu memang sudah tinggal beberapa menit

Semaikin dekat dengan bandara, mobil dan sepeda motor seperti tumpah di jalanan sangat padat sehingga traffic light pun sudah tidak berfungsi, karena diatur manual oleh bapak polisi (salut sama bapak polisi, di saat hujan deras meraka pun tetap memberikan pelayanan)

Laju sepeda motor pun semankin labat, bahkan sering tidak bergerak

Setelah sampai di persimpangan bandara kami pun lansung masuk dan memarkirkan sepeda motor lalu mengambil troli untuk membawa barang

Sambil berlari lari kami menuju ke terminal keberangkatan, hujan pun masih belum berhenti dengan derasnya

Tiba di terminal keberangkatan kami mendengar :

Sound Effect: *ringing bells’ sounds* Final call, passengers with a flight number of ** *** to Pontianak, please proceed to Gate 4. Thank you.

Itu panggilan terakhir, itu penerbangan saya, saya semakin buru-buru untuk masuk ke ruang check In

Saya lansung menuju ke ruang Check In, dan menyerahkan tiket kode booking dan kartu identitas saya

maaf pak ini sudah tidak bisa di proses . .. . ungkap petugas check In
Kenapa? sambung saya
Pintu pesawat sudah tutup dan sebentar lagi akan take off . . . ungkap petugasnya

Saya pun mengambil kembali kartu identitas saya, dan keluar . . .


Tidak bisa lagi, ketinggalan . . . kata saya kepada istri yang masih menunggu di luar
Yudah tidak apa apa mau bagaimana lagi, cari aja penerbangan besok . . kata istri

Saya pun mulai mencari penerbangan besok untuk tujuan pontianak, ternyata masih ada

Masih ada ni, di jam yang sama. jam 05.10 Wib. tapi harganya mahal sekali. . . . kata saya
ngak apa apa, namanya juga udah hari H baru pesan, untung masih ada . . . ungkap istri
Ini namanya harga bisnis tapi rasa ekonomi . . . timpal saya

Saya pun memesan tiketnya dan kembali pulang ke rumah.

Besoknya alhamdulilah saya bisa pulang ke Pontianak.